Dalam press release Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia dengan tema: Cegah Anak Terpapar Narkoba dan Pornografi Sejak Dini. Siaran Pers Nomor: B-233/Set/Rokum/MP  01/11/2018 yang adalah:

“…Berdasarkan hasil penelitian End Child Prostitution, Child Pornography, and Trafficking of Children for Sexual Purposes (ECPAT) Indonesia tahun 2017 pada enam kota di Indonesia, sebesar 97 persen anak pada rentang usia 14-18 tahun sudah terpapar konten pornografi yang berasal dari internet. Dari jumlah itu juga ditemukan fakta baru, 40 persen anak yang terpapar pornografi cenderung akan melakukan kekerasan seksual pada anak yang lain. Hal tersebut menjadi wajar, jika kita melihat hasil survey dari Kominfo tahun 2017 yang menunjukan sebanyak 66,31 persen penduduk Indonesia merupakan pengguna smartphone dan 65,34 persen di antaranya berada pada rentang usia 9-19 tahun…”

Fakta di atas merupakan keprihatinan bagi generasi penerus bangsa yang saat ini masih mengecap pendidikan di jenjang pendidikan dasar. Oleh karena itu, awal tahun pelajaran 2019–2020 di SMP Kristen ORA et LABORA BSD telah dibalut dengan terselenggaranya sebuah seminar yang dihadiri oleh seluruh siswa dan guru di SMP Kristen ORA et LABORA BSD. “Alkitab dan Pornografi” menjadi tema yang dibawakan oleh Pendeta Christopher Tapiheru yang juga menjadi pelayan Firman Tuhan dalam mengawali hari Kamis, 18 Juli 2019, yang penuh anugerah ini.

Pendeta Christopher mengingatkan bahwa Alkitab merupakan dasar dari segala sesuatu. Sebuah pertanyaan yang dipertanyakan dan dapat dijawab oleh masing–masing dari kita adalah: “Apakah kita menganggap bahwa tubuh kita berharga?” Saat kita tidak menganggap diri kita berharga maka menganggap orang lain penting atau sebaliknya adalah sebuah pertanyaan dalam diri kita. Seperti dalam kutipan ayat berikut, “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16). Tidak ada yang tidak bisa diubah dengan apa yang sudah terjadi. Namun ayat tersebut mengajak kita untuk berubah menjadi lebih baik dengan mengakui apa yang telah kita lakukan dan menjadi baik dengan berkat Tuhan. Marilah menjadi benar melalui hal baik yang berawal dari diri kita masing-masing. Percayalah  “manusia mempunyai harapan namun Tuhan memiliki tujuan bagi setiap umatnya,” penegasan yang disampaikan Pdt. Chistopher di akhir sesinya.

(SMPOeLBSD/Suzie/Kepsek)