Retret 16 Maret 2019: Giving My Best

Panggilan menjadi Pendidik, Hubungan dengan Tuhan, Kerjaku Syukurku

       Pada hari Sabtu, tanggal 16 Maret 2019 bertempat di Aula Kampus ORA et LABORA BSD, diadakan Retret untuk Guru dan karyawan. Kegiatan retret ini dilaksanakan selama 1 hari. Kegiatan retret ini dilaksanakan oleh bidang akademik dengan tujuan penguatan spiritual dan memahami arti penting melakukan segala sesuatu senantiasa memandang kepada Tuhan dan bukan kepada manusia. “Giving My Best” tema Retret kali ini Kolose 3:23 (Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia). Setiap orang yang Tuhan percayakan untuk berkarya di YPK ORA et LABORA dapat memahami Firman Tuhan ini dan melakukannya. Semua yang berkarya di YPK ORA et LABORA adalah satu keluarga atau satu tubuh maka hendaknya terbina sikap saling mendukung, menguatkan satu sama lain baik dalam hal spiritual dan semangat kerja untuk senantiasa memberi karya yang terbaik buat perkembangan sekolah ORA et LABORA, membuat bintang-bintang/siswa Sekolah ORA et LABORA bersinar dan senantiasa bersinar sesuai dengan moto “Create Stars in God’s Hand” untuk kemuliaan Tuhan.

       Pembicara retret adalah Pdt. Addi Soselia Patriabara, M.Th. saat ini beliau berkarya melayani sebagai Pengurus GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah. Pak Addi sapaan akrabnya, beliau sudah tidak asing dengan Sekolah Kristen ORA et LABORA, karena sejak melayani di GKI Serpong beliau sering melayani pada beberapa kegiatan di sekolah.

       Retret ini dibagi 3 sesi, Sesi Satu membahas tentang Panggilan menjadi Pendidik, Sesi Dua membahas tentang Hubungan dengan Tuhan, Sesi Tiga yang merupakan sesi terakhir temanya, yaitu Kerjaku Syukurku. Pada sesi satu Pdt. Addi membahas tentang Panggilan menjadi Pendidik, pembahasan yang utama adalah tentang Motivasi (Motif). Mengapa motif, karena motif adalah alasan atau dasar seseorang melakukan sesuatu. Mendidik adalah ajakan Allah untuk bekerja sama: kita menabur benih dan Allah yang menumbuhkan. Ada tugas dan tanggung jawab seorang pendidik di antaranya:

Ada sebelas sikap yang harus dimiliki oleh seorang pendidik untuk menjadi tenaga pendidikan yang optimal.

       Sesi kedua membahas tentang “Hubungan dengan Tuhan”. Pada topik ini Pak Addi membahas pentingnya menjalin hubungan/relasi dengan Tuhan sang pencipta. Tuhan menciptakan manusia dengan Tujuan, jika manusia mengetahui tujuan dari dia diciptakan Tuhan maka orang tidak akan merasa kecewa dengan Tuhan. Sebagai Pendidik memiliki relasi yang baik dengan Tuhan sang pencipta, sikap itu hendaknya ditularkan kepada siswa yang dididiknya. Salah satu tugas yang sangat penting seorang pendidik menurut Pak Addi, mendidik adalah mengajar dan menolong siswa menemukan tujuan Tuhan di dalam dirinya siswa. Bagaimana caranya? Pak Addi menyampaikan bahwa untuk tahu dan memahami tujuan Tuhan menciptakan dia/siswa, maka dibutuhkan: 1) Relasi dengan Tuhan, 2) Dilakukan dengan lebih intensif, dan 3) Selalu tertanam sikap positif bahwa ada harapan di dalam Tuhan. Ada relasi Formal, dan relasi Intim, relasi formal adalah relasi yang sifatnya wajib seperti hidup keagamaan/religius, sedangkan relasi intim adalah relasi yang sifatnya sangat intim/spiritual. Manusia adalah mahkluk Rohani (A.Heiken SJ), kita bukan Manusia dengan pengalaman spiritual, kita makhluk Spiritual yang mengalami hidup sebagai manusia (Teilhard de Chardin), kitab kejadian 2:7 mengatakan (Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup).

       Terkait dengan manusia sebagai makhluk spiritual, manusia hidupnya didasarkan pada pengaruh dan bimbingan Roh Kudus dan spiritual bukanlah doktrin atau seperangkat praktik (rohani) sederhana, melainkan sebuah proyek kehidupan yang berkelanjutan, dengan tujuan utama hidup yang utuh. Di manapun kita berada kita selalu membawa damai sejahtera. Sebagai makhluk spiritual kita butuh refleksi mendengar suara hati, membuka hati untuk mendengar suara Tuhan, peka mendengar suara Tuhan. Thomas Merton mengatakan, “Kita bertemu Allah dalam kesunyian dan kontemplasi bukan sebagai pertapa, melainkan sebagai orang yang hidup dalam dunia ramai.” Spiritual berkaitan erat dengan pengalaman bersama dengan Allah dan transformasi kesadaran kita (Richard O’ Brien).

       Berkaitan dengan relasi, kitab Matius 22:37-39 menyatakan (“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri). Dari ayat firman Tuhan ini, relasi dengan Tuhan dan dengan diri sendiri menjadi yang utama dilakukan jika yang utama sudah dilakukan maka pasti akan berdampak pada relasi dengan orang lain.

       Mengasihi diri berarti menerima diri sendiri sebagai manusia ciptaan Tuhan yang utuh, dan menemukan yang terbaik yang Tuhan ciptakan dalam diri kita. Cerita alkitab perumpamaan tentang talenta: Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya,  lalu ia berangkat (Matius 25:15). Dari cerita ini jelas terlihat orang yang menemukan yang terbaik yang Tuhan ciptakan dari dirinya dia dapat mengembangkan talenta dan memperoleh hasil yang maksimal. Begitu sebaliknya orang yang tidak menemukan yang terbaik yang Tuhan ciptakan dari dirinya dia menguburkan talentanya dan tidak berkembang.

       Kecintaan pada Tuhan tampak pada relasi kita dengan sesama (I Yohanes 4:20), ada dua sikap dalam relasi, konfirmasi dan konfrontasi. Konfirmasi adalah orang yang sependapat dengan kita membesarkan hati kita, sedangkan konfrontasi adalah orang yang tidak sependapat dengan kita menumbuhkan kita.

       Memasuki sesi ketiga, diawali dengan game untuk mencairkan suasana yang mulai jenuh. Materi sesi ketiga adalah tentang “kerjaku syukurku”. Pendeta Addi pada materinya menyampaikan terkait dengan kerja, 1) Penciptaan, 2) Kejatuhan Manusia dalam Dosa, 3) Perjanjian baru, Yesus dan Paulus.

       Allah itu adalah pekerja, kerja adalah tindakan Allah sendiri (Kejadian 1:2-7), dan Allah mengajak manusia untuk turut bekerja (Kej 1:28, 2:19), kerja bukan satu-satunya tindakan Allah, Allah juga beristirahat (Kej 2:2-3). Implikasi bagi dunia kerja, kerja adalah tindakan mulia, karena mencerminkan Allah sendiri yang bekerja, dan kerja adalah tindakan yang melibatkan seluruh anggota tubuh kita dan melibatkan orang lain, dalam bekerja kita juga butuh istirahat. Berbahaya jika orang bekerja terus dan mendewakan kerja.

       Dasar kerja manusia itu adalah karena kejatuhan manusia dalam dosa. Dampak dosa adalah rusaknya relasi manusia dengan Tuhan (Kej 3:18), dan manusia dengan sesamanya (Kej 3:17). Perempuan menjadi subordinan yang kena dampak parah (Kej 3:16), kerja mencari penghidupan, menjadi hukuman dan penderitaan bagi manusia (Kej 3:17-19). Implikasi bagi dunia kerja: kerja adalah kutuk, karena dampak dari dosa, kerja melelahkan: hasilnya tidak terasa, dan selalu kurang, kerja bukan lagi sinergi melainkan dominasi, bahayanya: kemalasan kerja, dan perlu motivasi.

       Yesus bekerja dengan berfokus kepada Bapa di sorga. Yohanes 5:17 (Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga). Yesus bekerja dengan hati (Lukas 7:13) dan ketika Tuhan melihat janda itu, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan.

       Tindakan dan ajaran Yesus menunjukkan ibadah sama penting dengan kerja,

       Seorang korban perampokan tergeletak di jalan, Iman dan Lewi melewati korban karena berbagai sebab, bisa jadi harus melaksanakan tugas keagamaan dan mereka tidak menolong korban tersebut, Orang Samaria dipuji karena tindakkannya. (Lukas 10:25-37), dan kisah tentang Maria dan Marta menyambut Yesus di rumah mereka. Dari cerita itu Marta, sebagaimana perempuan umumnya melakukan tugas menyiapkan makanan. Yang dipuji adalah Maria yang diam mendengarkan. Dari dua cerita tersebut menyatakan bahwa Ibadah sama pentingnya dengan kerja.

       Kerja harus berdampak itu yang dikatakan Rasul Paulus dalam kita (Filipi 1:22) Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. OeL buat daftar lulusan sekolah ORA et LABORA yang memberi dampak bagi gereja, masyarakat, negara dan bangsa. Itu merupakan energi positif dari sekolah Kristen ORA et LABORA.

       Bagi Rasul Paulus kerja adalah berisiko, (Filemon 1:9b) Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus, sudah menjadi tua pun Rasul Paulus tetap bekerja sekali pun di dalam penjara. Namun Rasul Pualus bekerja dengan penuh sukacita. Oleh sebab itu dalam bekerja haruslah penuh dengan sukacita dan bergembira (Filipi 4:4) Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah. Jadi kapanpun, di manapun, dalam kondisi apapun tetaplah bersukacita.

       Melalui proses memang kadang tidak mudah, hendaknya selalu melihat dari sisi terang di setiap apapun yang kita kerjakan. Ada satu eksperimen yang dilakukan tentang secercah harapan. Sebuah eksperimen yg dilakukan oleh para ilnuwan. Mereka menjatuhkan seekor tikus ke dalam seember air yang ditempatkan dalam ruangan yang sangat gelap. Mereka mengukur berapa lama binatang ini bisa bertahan berenang sebelum akhirnya menyerah dan membiarkan dirinya sendiri tenggelam. Mereka menemukan bahwa tikus ini hanya bertahan sekitar tiga menit. Lalu mereka menjatuhkan tikus lain dalam ember yang sama. Bukannya menempatkan tikus itu dalam kegelapan total, mereka justru memberikan secercah cahaya dalam ruangan itu. Dalam keadaan seperti itu, tikus ini terus berenang selama tiga puluh enam jam. Lebih dari tujuh ratus kali lebih lama daripada tikus yang ada dalam kegelapan!  Karena tikus ini dapat melihat terang, ia terus berharap.

       Dari cerita eksperimen di atas hendaknya setiap orang yang bekerja, bekarya di sekolah Kristen ORA et LABORA selalu melihat terang dan senantiasa berharap terang itu tidak redup dan mati. Terang itu yang senantiasa memotivasi untuk terus berkarya dan memberi karya yang terbaik untuk perkembangan dan kemajuan sekolah.

     

       Untuk sebuah organisasi momentum adalah hal penting dalam kemajuan organisasi, itu yang disampaikan oleh pak Addi, dan tertinggal kereta itu hal yang terjadi pada gereja dan lembaga kristiani sekarang. Tidak melihat momentum. Sekarang zaman digital dan industri 4.0 seperti yang banyak dibicarakan orang, calon presiden pun dalam debat kampanye menyinggung tentang industry 4.0. Hendaknya gereja dan organisasi kristiani jadikan itu momentum untuk bangkit dan maju.

       Sesi ketiga diakhiri dengan tugas kelompok di mana setiap kelompok harus menampilkan kreatifitasnya dengan yel.. yel.. atau lagu, fragmen, dan lain-lain dengan menunjukkan sisi baik dan positif dari sekolah ORA et LABORA, semua antusias menampilkannya. Demikian kegiatan retret kali ini dari pagi sampai sore berjalan dengan lancar. Kiranya semua materi yang disampaikan dapat tertanam dan diaplikasikan dalam kerja-kerja setiap civitas ORA et LABORA untuk kemajuan Sekolah ORA et LABORA. Senantiasa menjadi garam dan terang bagi sesama, Create Stars in God’s Hand. Sampai bertemu di retret yang akan datang. Terima kasih kami sampaikan buat Pdt. Addi Soselia Patriabara, M.Th. yang telah melayani kami, doa kami Tuhan memberkati Bapak senantiasa dalam setiap pelayanan Bapak. Tuhan sumber sukacita, damai sejahtera kiranya melimpahkan rahmat buat Pdt. Addi Soselia Patriabara, M.Th. di manapun berada. Amin.

(Yosianto Abong)